Minggu, 19 Februari 2023

IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar sukses menggelar Pelantikan, Upgrading dan Rapat kerja pengurus periode 2023-2024


Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng (IMPS) Koperti UIN Alauddin Makassar melaksanakan Pelantikan, Upgrading dan Rapat Kerja pengurus yang di laksanakan di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Soppeng.

Mengusung tema "Sadar Identitas Dedikasi Berkualitas". Kegiatan ini berlangsung mulai hari Sabtu - Minggu, 18 - 19 Februari 2023 yang dihadiri oleh kader IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar dan juga dihadiri oleh delegasi OSIS SMA/MA yang ada di Kabupaten Soppeng, serta Organisasi Kemahasiswaan yang ada di Kabupaten Soppeng.

Ketua Panitia, Maulana Siddiq mengharapkan agar kepanitiaan kegiatan ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi kepanitiaan berikutnya.

”Harapan saya kepada teman teman panitia agar kiranya segala kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan ini bisa menjadi evaluasi bagi kepanitiaan berikutnya," ungkapnya.

Sementara itu Ketua Umum IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar Periode 2023 - 2024, Andi Muhammad Syawal mengharapkan kepada pengurus yang telah dilantik agar selalu kompak dan bekerja sama dalam menghadapi masalah kedepannya.

"Harapan saya untuk pengurus baru yang sudah di Lantik ibarat kata kita sudah berada di atas kapal yang berlayar keluar dari dermaga, yang nantinya akan melewati ombak yang senantiasa menerjang," jelasnya.

"Besar kecilnya ombak tidak akan menjadi masalah jika kita selalu kompak dan bekerja sama dengan baik karena yakin dan percaya ada pulau yang indah nan cantik yang sedang menunggu di depan sana," pungkasnya.


Belajar, Berjuang, Bertaqwa

Minggu, 19 Februari 2023


Editor: M. Fajratul Ikhsan (Infokom IMPS Koperti UIN AM 2023-2024)

Kamis, 11 Maret 2021

"Segalanya Tak Akan Indah Jika Sistem Belum Diubah"

"Segalanya Tak Akan Indah jika Sistem Belum Diubah"

 

    Kisah dibawah ini hanya sekedar opini belaka dari si penulis, untuk mengantar para pembaca melihat kondisi jika sudah masuk dalam dunia kerja.

     

    Dikisahkan seorang bocah yang tak melanjutkan sekolah menengah pertamanya disebabkan kondisi ekonomi keluarga yang tidak bersahabat. Bocah yang semasa duduk di bangku dasar memiliki kiprah yang cukup baik dibuktikan karena selalu berhasil menjadi juara dalam kelas, namun harus menelan pahitnya kehidupan karena tak mampu melanjutkan studinya.  Setelah lulus dari bangku sekolah dasar, sang bocah terpaksa berdamai dengan keadaan yang mengharuskannya menjadi buruh kasar dalam sebuah ruang lingkup pekerjaan. Terikat oleh waktu kerja, setiap saat mendengar ocehan si Bos nya, lantas pantaskah anak seumuran itu diperdengarkan kata-kata yang kurang baik? Teringat olehku anggapan bahwa  kemiskinan tidak lahir secara alamiah melainkan ada latar sejarah panjang yang menjelaskannya, namun akan kujelaskan ditulisan selanjutnya.

    Lanjut kisah, idiealnya bocah seumurannya seharusnya masih disibukkan dengan dunianya menghabiskan masa kanaknya untuk bermain dengan teman sebaya tanpa harus menghiraukan pekerjaan yang sudah selayaknya dikerjakan oleh orang tuanya. Emmak sang bocah memang masih muda disekitaran 37 tahun, namun bisakah seorang perempuan muda itu mendapatkan pekerjaan yang layak seperti perempuan yang lainnya? Di lain sisi bahkan mengeyang bangku pendidikan pun tidak pernah dalam hidupnya. Karna bisanya hanya mencuci dan memasak kadang-kadang si emmak menerima panggilan untuk membantu memasak di acara-acara tertentu yang gajinya juga tidak seberapa. Keluh kesah terkadang keluar dari rongga melutnya yang mengeluh akan begitu susah bertahan hidup pada saat ini. Namun apa boleh buat? Lagi-lagi keadaan yang mendesaknya untuk tetap bekerja. Tidak ada waktu sengang untuk sang anak semuanya dihabiskan hanya untuk mencari uang begitu pula sebaliknya sang anak juga tak punya waktu senggang untuk si emmak di karenakan harus juga membantu kondisi perekonomian."Disini saya juga teringat pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Mungkin itu yang sedang terjadi dalam kehidupan keluarga sang bocah dan emmaknya yang masih muda itu.

    Hampir lupa saya memberikan penjelasan terkait abah sang bocah. Abahnya adalah seorang pekerja keras. Ia bahkan mengerjakan segala sesuatu selama pekerjaan itu masih halal dalam pandagan agama. Sebenarnya kehidupan keluarga kecil itu dulu sempat berada pada posisi sederhana tetapi semenjak sang abah meninggal dalam kecelakaan kerja, berubahlah 180 derajat hidupnya seperti sekarang ini. Abahnya dulu bekerja disebuah perusahaan ternama dan posisi yang diambil dalam pekerjaan itu juga cukup bagus dengan gaji yang memadai untuk kehidupan sehari-hari bahkan masih memiliki sisa untuk ditabung.

 

"Kronologi kecelakan kerja si abah"

    Saat itu abah dari bocah itu berangkat dari rumah sekitaran jam 7 pagi di karenakan harus apel. Pagi itu, tanpa menyantap sarapan yang di buat oleh si emmak, si abah langsung bergegas tanpa menggubris salah satu penghuni yang ada dalam rumah itu, tapi orang dirumah sudah terbiasa dengan hal itu bukan kali pertama si abah bertingkah begitu yah alasannya tentu karna tuntutan pekerjaan sebab jika si abah terlambat apel pagi maka gaji juga berkurang.

    Sesampai di tempat kerja setelah apel pagi, para pekerja bersiap-siap untuk mengurusi pekerjaannya  masing-masing, juga si abah tanpa menghiraukan teman sekerja meskipun mereka sudah saling kenal sebab ada aturan yang di berlakukan untuk para pekerja dilarang bertegur sapa ketika masih jam kerja. Sampai pada saat nasib buruk itu tiba, mobil truk besar yang dikendarai si abah jatuh kedalam jurang di karenakan remnya yang kurang berfungsi dengan baik dan seketika si abah meninggal dalam genggamannya yang masih memegang kemudi setir mobil truk itu.  Mendengar berita itu, sang bocah bersama emmaknya langsung bergegas kelokasi kecelakaan. Derai tangis tak terelekkan kehilangan yang paling mendalam dirasai si anak dan emmak. Mungkin dalam pikiran si emmak semua beban hidup akan jatuh padanya sebab si abah sudah meninggal. Dan memang itu yang terjadi bahkan bukan saja si emmak begitu pula dengan sang bocah, juga harus ikut menanggung beban. Pengharapan mendapatkan uang pesangon dari perusahaan sebagai bentuk belasungkawa hanya angan belaka pemilik perusahaan hanya memberika kata-kata duka cita. Tanpa memikirkan dan mengingat hal-hal apa yang telah dilakukan si abah untuk tetap perusahaan beroprasi dan lebih besar lagi.

 

Apa yang mampu di tarik sebagai benang merah dalam kisah singkat tersebut?


    Dalam kehidupan sekarang ini, sistem telah membuat kita lupa akan kita yang telah dijajah tanpa moncong senjata melainkan hegemoni dunia kerja yang tidak menguntungkan bagi setiap pekerja. Bentuk alienasi dalam dunia kerja seperti yang dikisahkan diatas dimana si abah sudah menghilangkan sebagian perhatiannya kepada keluarga kecilnya karena tuntutan dalam dunia kerjanya. Pekerjaan telah memberikan aleniasi kepada si abah dengan anak, si abah dengan emmak, bahkan waktu senggang dalam keluarganya pun telah hilang karna tetap harus memikirkan pekerjaan.


    Ini hanya sampel kecil kisah kehidupan para pekerja dalam dunia industri di lain waktu akan ku lanjutkan kisah ini, mungkin dengan judul yang berbeda tetapi dengan substansi isi bacaan yang sama.

 







 


“Muhammad Iqbal”

Kader IMPS Koperti UIN AM

 


Minggu, 28 Februari 2021

MENUMBUHKAN MINAT BELAJAR PADA MASA PANDEMI MELALUI KEGIATAN WISATA PENDIDIKAN





Dalam merespon kesenjangan perhatian terhadap pendidikan kepada masyarakat pelosok, IMPS Koperti UIN Alauddin Makassar berinisiatif melaksanakan sebuah kegiatan guna mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada poin ketiga yakni Pengabdian Kepada Masyarakat.
Kegiatan ini diberi nama WISATA PENDIDIKAN dengan mengangkat tema "Menerapkan Jargon Belajar Berjuang Betaqwa dalam Konteks Pengabdian" yang dilaksanakan selama satu minggu, mulai dari tanggal 22-28 Februari 2021, di Dusun Waessuru, Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. 

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Bapak Kepala Desa Umpungeng dalam hal ini Bapak Salahuddin, S.Ag. Pada pembukaan kegiatan dihadiri oleh para Kepala Dusun sedesa Umpungeng, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Pemuda Dusun Waessuru. Dalam kegiatan ini juga masyarakat setempat sangat merespon baik terhadap kedatangan teman-teman dari IMPS Koperti UIN AM.                                                                                                                                  
Ketua panitia, Andi Ahmad Diyauddin mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan minat belajar kepada anak-anak serta masyarakat Dusun Waessuru di masa pandemi. 

"Disana juga kami membuat Baruga Macca (Taman Baca Masyarakat) sebagai tempat pengembangan minat baca khususnya warga Dusun Waessuru", ujarnya.

Serta menjadikan SDN 14 Pangempange sebagai sekolah binaan.

Kegiatan ini dimulai pada tanggal 22-28 Februari 2021 dan merupakan ajang pendekatan sekaligus perkenalan kepada masyarakat setempat. 

Ketua Umum IMPS Koperti UIN AM, Angga Winanda berharap agar masyarakat Dusun Waessuru selalu menerima kehadiran IMPS Koperti UIN AM. Dan teruntuk pengurus, Panitia Pelaksana, dan seluruh kader IMPS Koperti UIN AM agar tetap konsisten dengan apa yang sudah dilakukan.



 

 

DIFFERENCE

Difference (perbedaan) Suatu ketika seorang pemuda mendatangi suatu desa dengan perawakan yang sedikit gon d rong dan bertattoo. Pada saat ...